Saturday, April 11, 2009
Di Indonesia dampak lingkungan dari teknologi pembangkit listrik mendapat perhatian yang serius. Emisi CO2 merupakan parameter terbesar yang berpengruh terhadap pemanasan global. Emisi CO2 tidak berhubungan langsung dengan kesehatan. Meskipun
Penggunaan bahan bakar fosil untuk pembangkit listrik akan dapat meningkatkan emisi dari partikel SO2, NOX, dan CO2. Saat ini bahan bakar pembangkit listrik di
Cara untuk mengurangi emisi adalah dengan menggunakan teknologi bersih. Dalam proses ini menggunakan Integrated Gasification Combined Cycle (IGCC). Teknologi ini merupakan inovasi terbaru dalam memperbaiki metoda pembakaran batubara. Batubara diubah bentuk dari padat menjadi gas. Perubahan bentuk ini meningkatkan efisiensi, yaitu dengan memperlakuan gas hasil gasifikasi seperti penggunaan gas alam. Gas tersebut bisa dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin gas. Gas buang dari turbin gas yang masih mempunyai suhu yang cukup tinggi dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin uap dengan menggunakan HRSG (High Recovery Steam Generator)



Gasifikasi dilakukan pada tahap awal proses, yaitu setelah proses menghalusan atau pembentukan slurry. Gasifikasi dilakukan pada suhu yang cukup tinggi yaitu sekitar 1400-1500 oC. Abu sisa pembakaran akan meleleh pada suhu tersebut. Gas hasil gasifikasi sebelum masuk turbin gas dibersihkan dengan menggunakan ESP dan desulfurisasi. Proses desulfurisasi ini akan menghasilkan belerang murni yang mempunyai nilai jual tinggi. Denitrifikasi dilakukan setelah HRSG.
Efisiensi IGCC dapat mencapai 43-47 %. Emisi SO2 dan NOx dapat dikurangi masing-masing sekitar 95-99 % dan 40-95 %.
Labels: tugas



